
Keterangan foto: Tim pengabdian masyarakat Telkom University bersama pengelola dan warga Desa Wisata Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Rabu (26/8/2026).
KABUPATEN BANDUNG — Tim dosen Telkom University yang dipimpin Indira Rachmawati, S.T., M.S.M., Ph.D. menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Optimalisasi Media Sosial sebagai Strategi Pengembangan dan Peningkatan Daya Saing Desa Wisata Sugihmukti” pada Rabu (26/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung ini membekali pengelola desa wisata dan warga dengan strategi memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan potensi desa ke pasar yang lebih luas.
Sugihmukti ditetapkan pemerintah sebagai Desa Wisata Rintisan pada 2022. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa yang dibentuk pada pertengahan Oktober 2022 kini tengah mempersiapkan Sugihmukti untuk tumbuh sebagai destinasi wisata. Salah satu pekerjaan rumah terbesarnya adalah memperkenalkan potensi desa kepada calon wisatawan di luar daerah.
Menurut tim, media sosial menjadi jawaban yang paling realistis. Minat wisatawan terhadap wisata ekologis, budaya, dan pengalaman otentik terus meningkat, sementara media sosial menawarkan jangkauan luas dengan biaya promosi yang relatif rendah. Platform ini juga memungkinkan desa berinteraksi langsung dengan calon wisatawan dan menerima umpan balik secara real-time.”Desa wisata hari ini tidak cukup hanya indah, tetapi juga harus terlihat. Media sosial adalah etalase yang bisa dibuka siapa saja, kapan saja. Kami ingin warga Sugihmukti mampu mengelola etalase itu secara mandiri,” ujar Indira Rachmawati, Ph.D., selaku ketua tim.

Instagram dan Facebook Jadi Andalan
Dalam pemaparannya, tim menjelaskan bahwa Instagram dan Facebook merupakan platform paling efektif untuk promosi desa wisata. Instagram unggul karena kekuatan visualnya yang cocok untuk menampilkan keindahan alam dan budaya desa. Facebook, dengan basis pengguna yang masif, memungkinkan kampanye yang lebih terstruktur dan interaksi melalui grup. Tim juga menyarankan TikTok sebagai kanal tambahan untuk menjangkau audiens muda.
Peserta diperkenalkan pada tiga kunci strategi konten. Pertama, visual berkualitas tinggi berupa foto dan video, termasuk siaran langsung untuk pengalaman yang lebih imersif. Kedua, kolaborasi dengan influencer lokal untuk memperluas jangkauan dan membangun kepercayaan. Ketiga, menonjolkan keunikan lokal seperti budaya, tradisi, kuliner, dan kerajinan khas desa.
Belajar dari Desa Lain
Tim turut membagikan pengalaman desa wisata lain yang berhasil tumbuh lewat promosi digital. Di Desa Wisata Bakau Serip, pendampingan pengelolaan akun Instagram selama tiga bulan mendongkrak minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Desa Resun dan Desa Kertarahayu juga rutin menggelar workshop media sosial sehingga warga dapat mengelola promosi desanya sendiri. Tantangan dan Rekomendasi, Tim tidak menutup mata terhadap tantangan di lapangan, mulai dari keterbatasan jaringan internet di perdesaan, persaingan konten yang ketat, konten yang monoton, hingga minimnya sumber daya manusia yang terlatih di bidang pemasaran digital. Sebagai solusinya, tim menyampaikan empat rekomendasi bagi pengelola Desa Wisata Sugihmukti:
- Mengunggah konten yang menarik dan informatif secara rutin dan terjadwal, mengikuti tren terkini.
- Fokus pada platform populer, yaitu Instagram, Facebook, dan TikTok.
- Melibatkan warga dan pelaku UMKM dalam pembuatan konten.
- Menggelar pelatihan pemasaran digital dan produksi konten, seperti penyuntingan video dan copywriting, secara berkala.
Menurut tim, media sosial kini tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan motor penggerak ekonomi desa. Selain mendatangkan wisatawan, promosi digital diharapkan ikut menggerakkan usaha warga dan membangun citra positif desa. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Telkom University dalam mendukung pengembangan potensi ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital. Ke depan, tim berharap Desa Wisata Sugihmukti dapat dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional serta berkembang menjadi desa wisata yang maju, mandiri, dan berdaya saing.