Punya potensi tapi sulit ditemukan: FEB Telkom University latih BUMDes Rancakalong optimalkan promosi digital

Akun media sosial desa sudah ada dan aktif. Tantangannya kini bergeser: bagaimana membuat kanal yang sudah berjalan itu benar-benar mempromosikan wisata, budaya, dan produk desa secara terarah dan berkelanjutan. Potensi wisata sebuah desa tidak selalu gagal karena kurang menarik. Sering kali persoalannya jauh lebih sederhana: calon pengunjung tidak menemukan informasinya. Berangkat dari kenyataan itu, tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Telkom University menyelenggarakan pelatihan literasi dan promosi digital bagi pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta pengelola desa wisata di Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang.

Kegiatan yang mengusung tema Literasi dan Promosi Digital untuk Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Ecowisata ini diikuti oleh perangkat desa, anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengurus BUMDes, dan pengelola desa wisata. Pelatihan dirancang dengan porsi teori yang minimal dan praktik yang dominan, sehingga peserta dapat langsung menghasilkan konten promosi pada hari yang sama.

Tim Abdimas Bina Desa ini diketuai oleh Alex Winarno, dengan anggota Eva Nurhazizah dan   Puspita Kencana Sari, seluruhnya dosen di lingkungan FEB Telkom University. Pada sesi kali ini, materi pelatihan disampaikan oleh Eva Nurhazizah selaku pemateri utama.

Masalahnya bukan ketiadaan akun, Salah satu temuan awal yang menarik dari kegiatan ini adalah bahwa Desa Rancakalong sesungguhnya telah memiliki infrastruktur digital yang memadai. Desa ini sudah mengelola akun Instagram resmi @desa_rancakalong, ditambah kanal pendukung berupa WhatsApp, YouTube, dan TikTok. Dengan demikian, titik persoalan bergeser dari ketiadaan kanal menuju persoalan yang lebih substantif.

“Akun desa sudah aktif, dan itu modal yang sangat baik. Yang perlu kita benahi bersama adalah isinya, konsistensinya, arah promosinya, dan bagaimana mengukur hasilnya,” ujar [Alex] di hadapan peserta. Menurutnya, banyak akun resmi desa berhenti pada fungsi dokumentasi kegiatan, padahal kanal yang sama berpeluang besar menjadi etalase wisata, budaya, dan produk lokal.

Materi pelatihan karena itu diarahkan pada penataan ulang peran akun yang sudah berjalan: memisahkan konten pelayanan pemerintahan dengan konten promosi desa wisata, menyusun kalender konten, serta menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan kanal agar aktivitas digital desa tetap berjalan meskipun terjadi pergantian pengurus.

Kekuatan asli desa sebagai bahan cerita, Pelatihan menegaskan bahwa promosi digital harus berangkat dari kekuatan asli desa, bukan dari tren yang dipaksakan. Rancakalong memiliki modal yang sangat kaya: bentang alam berupa sawah, perbukitan, dan hutan; kekayaan seni budaya seperti Tarawangsa, Ngalaksa, Calung, Kuda Renggong, hingga Kecapi Suling; aset wisata seperti Geoteater Rancakalong dan Gedung Bisnis Center; serta produk desa berupa kuliner lokal, kerajinan, dan paket edukasi budaya.

Peserta diajak memilih cerita yang paling kuat dari deretan potensi tersebut, lalu menyampaikannya dengan bahasa yang sederhana dan jujur. Prinsip ecowisata ditempatkan sebagai bingkai utama: menjaga alam, menampilkan tradisi dengan hormat, memastikan manfaat ekonomi mengalir ke warga dan UMKM, serta mengedukasi tamu agar menghargai aturan setempat.

“Dalam promosi, hindari janji berlebihan. Ceritakan pengalaman asli desa itu yang membuat pengunjung datang dan kembali lagi.”

Dari smartphone sampai kecerdasan buatan, Sesi praktik dimulai dari hal paling dasar. Peserta dilatih mengambil foto dan video hanya dengan telepon genggam: memanfaatkan cahaya pagi atau sore, mengunci fokus pada objek utama, menjaga kestabilan tangan, merapikan area sekitar objek, dan merekam secara vertikal untuk kebutuhan Reels maupun Story. Peserta selanjutnya belajar menulis caption dengan pendekatan AIDA menarik perhatian, membangun minat, menumbuhkan keinginan, lalu mengarahkan tindakan. Ajakan bertindak ditekankan agar selalu konkret, misalnya mengarahkan calon pengunjung menghubungi WhatsApp resmi desa untuk informasi jadwal dan paket kunjungan.

Menariknya, pelatihan juga menyentuh pemanfaatan generative artificial intelligence secara bertanggung jawab. Peserta diperkenalkan pada cara meminta bantuan AI untuk menyusun draf caption, ide hashtag, hingga kalender konten. Namun batasannya ditegaskan dengan jelas: seluruh informasi menyangkut nama tempat, harga, jadwal, nomor kontak, dan klaim sejarah wajib diverifikasi manusia, sementara pembuatan testimoni fiktif dan penggunaan foto orang tanpa izin sama sekali tidak dibenarkan.

“AI boleh membantu menulis, tetapi admin desa tetap memegang tanggung jawab penuh atas kebenaran informasi yang diunggah,” tegas pemateri. Prinsip praktis yang ditanamkan sederhana saja: sebelum mengunggah, periksa apakah informasinya benar, pantas, dan bermanfaat.

Keamanan akun dan pembagian peran, Bagian yang kerap terlewat namun mendapat porsi khusus dalam pelatihan adalah keamanan akun. Tim menegaskan bahwa akun resmi merupakan aset desa yang harus dijaga selayaknya dokumen penting. Peserta diarahkan menggunakan kata sandi minimal dua belas karakter, mengaktifkan verifikasi dua langkah, membatasi daftar admin, serta memastikan nomor dan surel pemulihan atas nama lembaga, bukan pribadi semata.

Pengelolaan akun juga didorong berbasis tim kecil dengan pembagian peran yang jelas: koordinator yang menentukan arah dan memberi persetujuan akhir, admin harian yang mengunggah konten serta membalas pesan, tim konten yang mengumpulkan foto dan cerita, serta petugas validasi informasi yang memastikan akurasi harga, jadwal, dan lokasi.

Luaran nyata dan rencana tiga puluh hari, Kegiatan ini menargetkan luaran yang terukur, yakni audit profil Instagram desa, lima konten promosi siap unggah, kalender konten satu bulan, dan SOP pengelolaan kanal digital. Pada sesi praktik kelompok, peserta membuat lima jenis konten sekaligus: foto produk atau layanan, cerita budaya, edukasi ecowisata, promosi event atau paket kunjungan, serta story testimoni.

Sebagai tindak lanjut, tim menyusun rencana optimalisasi tiga puluh hari. Pekan pertama difokuskan pada audit profil, bio, sorotan, kontak, dan penyusunan daftar admin. Pekan kedua diisi unggahan konten promosi wisata, budaya, UMKM, dan edukasi ecowisata. Pekan ketiga diarahkan pada pengumpulan testimoni serta penautan kanal dengan Google Maps dan WhatsApp. Pekan keempat digunakan untuk mengevaluasi insight Instagram dan menyusun kalender bulan berikutnya. Target awal yang dinilai realistis adalah tiga unggahan per pekan disertai tiga hingga lima story ketika ada kegiatan.

Puspita Kencana Sari, anggota tim pelaksana, menilai pendekatan berkelanjutan semacam ini penting agar hasil pelatihan tidak berhenti di ruang kelas. “Kami tidak ingin kegiatan ini selesai begitu acara ditutup. Karena itu ada pendampingan, ada review mingguan, dan ada indikator sederhana yang bisa dipantau sendiri oleh pengurus desa,” ujarnya.

Sementara itu, Alex Winarno selaku ketua tim menyampaikan bahwa program Bina Desa merupakan bentuk konkret pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Kehadiran kami di Rancakalong bukan sekadar memenuhi kewajiban institusional. Kami ingin ilmu yang diajarkan di kampus benar-benar terpakai untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” katanya.

Melalui pelatihan ini, tim berharap kanal digital Desa Rancakalong tidak hanya membuat desa terlihat, tetapi juga membantu potensinya dikelola dengan tertib, dipercaya calon pengunjung, dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi warga.

Author:

Trending

Kategori

Bagikan Artikel dan Perspektif Terbaik Anda