Bina Desa Rancakalong: Ketika Ilmu Akuntansi Menjaga Warisan Budaya Sunda

SUMEDANG. Suara jentreng dan gesekan rebab Tarawangsa telah mengalun di Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, selama berabad-abad. Kesenian sakral yang lekat dengan ritual penghormatan terhadap padi dan siklus panen ini menjadi identitas budaya yang membedakan Rancakalong dari desa mana pun di Jawa Barat. Namun di balik kekayaan tradisi tersebut, tersimpan persoalan yang jarang tersorot: pengelolaan keuangan kelompok seni yang belum tertata. Warisan budaya tak cukup dijaga dengan nada dan ritual. Melalui program PKM Bina Desa, tim dosen FEB Telkom University menghadirkan pendekatan berbeda: memperkuat kelompok seni Tarawangsa lewat pencatatan keuangan yang tertib dan akuntabel.

Menjawab persoalan itu, tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Telkom University menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melalui skema Bina Desa di Desa Rancakalong. Kegiatan ini secara khusus menyasar kelompok seni Tarawangsa setempat dengan mengangkat tema pentingnya penyusunan laporan keuangan sebagai fondasi keberlanjutan organisasi seni tradisi.

Berawal dari Observasi Lapangan, sebelum kegiatan digelar, tim pelaksana terlebih dahulu melakukan observasi langsung terhadap kondisi kelompok seni Tarawangsa di Desa Rancakalong. Observasi dilakukan melalui pengamatan aktivitas kelompok, wawancara dengan pengurus, serta penelusuran dokumen-dokumen keuangan yang selama ini digunakan. Hasilnya cukup mengejutkan sekaligus menjadi pijakan utama dalam merancang materi pendampingan. Dari proses observasi tersebut, tim menemukan sejumlah persoalan mendasar yang selama ini luput dari perhatian, namun berdampak langsung pada keberlangsungan operasional kelompok seni.

Peran penting dalam kegiatan ini adalah kerjasama tim kelompok Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University, yang menjadi ujung tombak dalam tahap observasi lapangan. Melalui pengamatan langsung terhadap aktivitas kelompok serta penelusuran dokumen keuangan yang selama ini digunakan, Tim berhasil mengidentifikasi sejumlah persoalan mendasar mulai dari ketiadaan pencatatan yang sistematis, tercampurnya keuangan kelompok dengan keuangan pribadi pengurus, hingga tidak terdokumentasinya penerimaan dari pementasan dan pengeluaran untuk perawatan alat musik tradisional. Temuan-temuan inilah yang kemudian menjadi bahan utama penyusunan materi pendampingan.

TEMUAN OBSERVASI LAPANGAN

  • Belum tersedia pencatatan keuangan yang sistematis; transaksi kelompok sebagian besar hanya diingat atau dicatat pada lembaran terpisah tanpa format baku.
  • Tidak ada pemisahan yang jelas antara keuangan kelompok seni dengan keuangan pribadi pengurus, sehingga sulit menelusuri posisi kas yang sebenarnya.
  • Penerimaan dari pementasan, hajatan, dan undangan acara adat tidak terdokumentasi secara utuh, sehingga potensi pendapatan kelompok tidak terpetakan.
  • Pengeluaran untuk perawatan alat musik tradisional, transportasi, dan konsumsi anggota tidak tercatat, sehingga kebutuhan dana rutin sulit diperkirakan.
  • Ketiadaan laporan pertanggungjawaban menyulitkan kelompok ketika hendak mengajukan bantuan dana, hibah budaya, atau kerja sama dengan pihak ketiga.
  • Belum terbangun mekanisme transparansi kepada seluruh anggota, yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman internal dalam jangka panjang.

Bertindak sebagai pemateri dalam kegiatan ini, Fanji Farman menyampaikan materi mengenai pentingnya penyusunan laporan keuangan bagi kelompok seni Tarawangsa. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa laporan keuangan bukanlah instrumen yang eksklusif milik perusahaan atau lembaga formal, melainkan alat kendali yang dibutuhkan oleh setiap organisasi yang mengelola uang termasuk kelompok kesenian tradisional. “Banyak yang mengira laporan keuangan itu urusan perusahaan besar dengan akuntan bersertifikat. Padahal tidak. Selama sebuah kelompok menerima uang dan mengeluarkan uang, di situ laporan keuangan dibutuhkan. Kelompok seni Tarawangsa ini menerima honor pementasan, mengeluarkan biaya perawatan alat, membeli perlengkapan ritual  semuanya adalah transaksi. Kalau tidak dicatat, kelompok tidak akan pernah tahu posisi keuangannya sendiri.”

Fanji menjelaskan bahwa dari hasil observasi yang dilakukan tim, persoalan yang dihadapi kelompok seni Tarawangsa sebenarnya bersifat teknis dan sangat mungkin diperbaiki. Menurutnya, tidak diperlukan sistem akuntansi yang rumit, yang dibutuhkan adalah kedisiplinan mencatat dan format sederhana yang konsisten digunakan. “Kami tidak datang untuk memaksakan standar akuntansi yang berat. Yang kami tawarkan adalah pencatatan sederhana buku kas masuk dan kas keluar, pemisahan uang kelompok dari uang pribadi, dan rekapitulasi bulanan. Sesederhana itu. Tapi dampaknya besar: kelompok jadi punya bukti, punya rekam jejak, dan punya dasar ketika suatu saat mengajukan bantuan dana budaya. Tanpa laporan keuangan, kelompok sehebat apa pun akan kesulitan meyakinkan pihak lain, Fanji Farman, Dosen FEB Telkom University. Dalam sesi pemaparan, Fanji juga membedah satu per satu temuan observasi di hadapan peserta. Pendekatan ini dipilih agar peserta tidak merasa sedang digurui, melainkan diajak melihat kondisi kelompoknya sendiri secara objektif. Beberapa peserta mengakui bahwa persoalan yang dipaparkan memang benar terjadi, namun selama ini dianggap wajar karena tidak ada yang mempermasalahkan.

Komitmen Jangka Panjang Tim Pelaksana, Ketua Pelaksana kegiatan Putri Fariska Sugestie, menyampaikan bahwa program Bina Desa di Rancakalong dirancang bukan sebagai kegiatan sekali jalan. Ia menegaskan bahwa pemilihan kelompok seni Tarawangsa sebagai mitra sasaran dilakukan secara sadar, mengingat posisi strategis kesenian ini sebagai identitas budaya sekaligus potensi ekonomi desa.“Tarawangsa adalah aset budaya yang luar biasa, dan aset sebesar itu layak dikelola dengan tata kelola yang baik. Kami melihat ada jarak antara kekayaan budaya yang dimiliki dengan kapasitas manajerial kelompoknya. Di titik itulah kami merasa perguruan tinggi harus hadir. Program Bina Desa ini adalah bentuk komitmen FEB Telkom University untuk membangun desa dari sisi yang paling mendasar: kemampuan mengelola dan mempertanggungjawabkan keuangan, Ujar Putri Fariska Sugestie Selaku Ketua Pelaksana PKM Bina Desa, Dosen FEB Telkom University

Nora Amelda Rizal selaku anggota tim, menambahkan bahwa tim telah menyusun rencana pendampingan lanjutan agar hasil kegiatan tidak berhenti pada satu pertemuan. Rencana tersebut mencakup monitoring berkala terhadap penerapan pencatatan oleh kelompok, penyediaan kanal konsultasi, serta kemungkinan pengembangan materi ke arah penyusunan proposal pengajuan dana budaya.

Membangun Desa dari Fondasi Tata Kelola, Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Sejumlah anggota kelompok yang selama ini hanya berfokus pada aspek pertunjukan mulai menyadari bahwa keberlanjutan kelompok juga sangat ditentukan oleh hal-hal di luar panggung. Diskusi berkembang hingga menyentuh persoalan regenerasi anggota, pembagian hasil pementasan, hingga rencana pengadaan alat musik baru yang semuanya bermuara pada satu kebutuhan yang sama: kejelasan kondisi keuangan.

Kegiatan PKM Bina Desa ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada pilar pengabdian kepada masyarakat. Bagi FEB Telkom University, hadir langsung di tengah masyarakat desa bukan sekadar memenuhi kewajiban institusional, melainkan bentuk tanggung jawab akademik untuk memastikan ilmu yang diajarkan di ruang kelas benar-benar bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Melalui pendampingan ini, tim pelaksana berharap kelompok seni Tarawangsa Desa Rancakalong dapat bertransformasi dari pengelolaan keuangan berbasis ingatan menuju pengelolaan berbasis pencatatan yang tertib dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan laporan keuangan yang rapi, kelompok tidak hanya lebih siap menghadapi peluang kerja sama dan pendanaan, tetapi juga lebih kuat secara internal karena transparansi terbangun di antara sesama anggota.

Pada akhirnya, menjaga warisan budaya tidak cukup dilakukan dengan melestarikan nada dan ritualnya saja. Diperlukan pula tata kelola yang sehat agar kesenian tersebut mampu bertahan lintas generasi. Di Desa Rancakalong, upaya itu kini telah dimulai dari sebuah buku kas sederhana yang dicatat dengan tekun.

Author:

Trending

Kategori

Bagikan Artikel dan Perspektif Terbaik Anda