BBM ASEAN Tertekan Konflik Timur Tengah, Indonesia dan Malaysia Masih Andalkan Subsidi

Oleh: Maya Safira Dewi (Praktisi dan Lecturer Telkom University)

Konflik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar minyak dunia. Gangguan pasokan melalui Selat Hormuz membuat harga minyak global melonjak dan menekan harga bahan bakar minyak di berbagai negara, termasuk kawasan Asia Tenggara.

Empat negara ASEAN : Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, mengambil langkah berbeda dalam merespons kenaikan harga minyak tersebut. Indonesia dan Malaysia memilih menahan harga BBM bersubsidi, Singapura mempertahankan harga pasar dengan bantuan terarah, sementara Thailand fokus menekan harga diesel melalui intervensi harga kilang.

Angka Kunci

NegaraHarga rujukanArah kebijakan
IndonesiaPertalite Rp10.000/liter; Biosolar Rp6.800/literHarga BBM bersubsidi ditahan; BBM nonsubsidi menyesuaikan.
MalaysiaRON95 BUDI95 RM1,99/liter; RON95 nonsubsidi RM3,87/literSubsidi bersasar dengan kuota konsumsi.
SingapuraBensin 95 sekitar S$3,42-S$3,47/liter; diesel S$4,42-S$4,68/literHarga pasar dengan bantuan terarah.
ThailandDiesel sekitar 40,20 baht/liter; Gasohol 95 42,45 baht/literIntervensi harga diesel melalui harga eks-kilang.

Harga Minyak Dunia Melonjak

International Energy Agency mencatat pasokan minyak global turun tajam pada Maret 2026 akibat terganggunya jalur pengiriman energi di Timur Tengah. Kondisi itu membuat harga minyak acuan Brent sempat bergerak di atas US$100 per barel.

Kenaikan harga minyak ini langsung berdampak pada negara-negara Asia Tenggara yang sebagian besar masih bergantung pada impor minyak mentah dan produk olahan. Tekanan paling terasa terjadi pada bensin, diesel, dan avtur.

Perbedaan harga BBM di ASEAN bukan hanya soal pasar minyak global, tetapi juga soal pilihan kebijakan: subsidi, bantuan langsung, atau intervensi harga.

Indonesia Tahan Pertalite dan Solar

Di Indonesia, pemerintah tetap mempertahankan harga Pertalite sebesar Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter. Namun, beberapa BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian harga.

Dexlite tercatat naik menjadi sekitar Rp23.600 per liter, sementara Pertamina Dex mencapai Rp23.900 per liter. Kebijakan ini menunjukkan strategi pemerintah untuk menjaga harga BBM yang paling banyak digunakan masyarakat, sambil membiarkan BBM nonsubsidi mengikuti tekanan harga global.

Langkah tersebut dapat membantu menahan inflasi dalam jangka pendek. Namun, konsekuensinya adalah beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN berpotensi meningkat apabila harga minyak dunia tetap tinggi.

Malaysia Pangkas Kuota Subsidi

Malaysia juga memilih mempertahankan harga BBM bersubsidi. Pemerintah menjaga harga RON95 BUDI95 sebesar RM1,99 per liter atau sekitar Rp8.700 per liter.

Namun, kuota subsidi BUDI95 dipangkas dari 300 liter menjadi 200 liter per bulan mulai April 2026. Pemerintah Malaysia menyebut beban subsidi bensin dan diesel dapat mencapai sekitar RM4 miliar per bulan jika harga minyak mentah bertahan di kisaran US$100 per barel.

Untuk BBM nonsubsidi, harga RON95 ditetapkan sekitar RM3,87 per liter, RON97 RM4,85 per liter, dan diesel Semenanjung Malaysia RM5,12 per liter. Kebijakan Malaysia menunjukkan peralihan dari subsidi menyeluruh menuju subsidi bersasar.

Singapura Biarkan Harga Mengikuti Pasar

Berbeda dari Indonesia dan Malaysia, Singapura tidak menahan harga BBM melalui subsidi langsung. Harga bensin 95 di negara tersebut berada di kisaran S$3,42 hingga S$3,47 per liter, atau setara lebih dari Rp46.000 per liter.

Harga diesel di Singapura bahkan lebih tinggi, berkisar S$4,42 hingga S$4,68 per liter sebelum diskon. Dengan kurs rupiah, angka itu setara sekitar Rp59.000 hingga Rp63.000 per liter.

Pemerintah Singapura memilih memberikan bantuan langsung kepada rumah tangga, pekerja platform, sopir taksi, pengemudi private-hire, dan sektor transportasi tertentu. Pendekatan ini membuat harga BBM tetap mencerminkan harga pasar, tetapi kelompok terdampak tetap mendapat dukungan.

Thailand Fokus Tekan Harga Diesel

Thailand mengambil pendekatan berbeda dengan menekan harga diesel melalui intervensi di tingkat kilang. Diesel menjadi perhatian utama karena sangat berpengaruh terhadap biaya transportasi, logistik, pertanian, dan harga barang.

Pada akhir April 2026, harga diesel di Thailand berada di sekitar 40,20 baht per liter atau sekitar Rp21.400 per liter. Sementara itu, Gasohol 95 berada di kisaran 42,45 baht per liter atau sekitar Rp22.600 per liter.

Pemerintah Thailand memangkas harga eks-kilang diesel untuk meredam kenaikan harga di tingkat konsumen. Kebijakan ini dinilai efektif dalam jangka pendek, tetapi berisiko menekan margin kilang dan memerlukan dukungan dana stabilisasi energi.

Perbandingan Harga BBM di Empat Negara:

NegaraJenis BBMHarga lokalPerkiraan rupiah/literKebijakan utama
IndonesiaPertaliteRp10.000Rp10.000Harga subsidi ditahan
IndonesiaBiosolarRp6.800Rp6.800Subsidi APBN
MalaysiaRON95 BUDI95RM1,99±Rp8.700Subsidi bersasar
MalaysiaRON95 nonsubsidiRM3,87±Rp16.900Harga pasar terkendali
SingapuraBensin 95S$3,42-S$3,47±Rp46.000-Rp47.000Harga pasar
SingapuraDieselS$4,42-S$4,68±Rp59.000-Rp63.000Bantuan terarah
ThailandDiesel40,20 baht±Rp21.400Intervensi harga kilang
ThailandGasohol 9542,45 baht±Rp22.600Stabilisasi harga

Subsidi Jadi Pilihan Politik Energi

Perbandingan empat negara tersebut menunjukkan bahwa harga BBM tidak hanya ditentukan oleh harga minyak dunia, tetapi juga oleh pilihan kebijakan pemerintah.

Indonesia dan Malaysia memilih menjaga harga BBM rakyat tetap rendah melalui subsidi. Singapura memilih mempertahankan harga pasar, tetapi memberikan bantuan langsung kepada kelompok terdampak. Thailand mengambil jalan tengah dengan menekan harga diesel karena komoditas tersebut berperan besar dalam biaya logistik.

Dalam jangka pendek, subsidi dan intervensi harga dapat menahan inflasi serta menjaga daya beli masyarakat. Namun, jika harga minyak dunia terus tinggi, kebijakan tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap anggaran negara.

Sebaliknya, kebijakan berbasis harga pasar seperti Singapura lebih sehat bagi fiskal, tetapi menuntut sistem bantuan sosial yang kuat agar masyarakat berpendapatan rendah tidak menanggung beban terlalu besar.

Kesimpulan

Krisis minyak akibat konflik Timur Tengah 2026 memperlihatkan perbedaan strategi energi di Asia Tenggara. Indonesia dan Malaysia mengandalkan subsidi, Singapura mengandalkan mekanisme pasar dengan bantuan terarah, sedangkan Thailand memprioritaskan stabilisasi harga diesel.

Ke depan, negara-negara ASEAN perlu menyeimbangkan tiga hal utama: menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan beban fiskal, dan mempercepat transisi menuju energi yang lebih tahan terhadap gejolak harga minyak global.

Sumber Data

  • International Energy Agency (IEA), Oil Market Report: April 2026.
  • Reuters, laporan perkembangan harga minyak dan dampak konflik Timur Tengah, April 2026.
  • Antara, laporan harga BBM Indonesia dan kebijakan subsidi energi, April 2026.
  • Kementerian Keuangan Malaysia, pengumuman harga runcit bahan bakar periode 23-29 April 2026.
  • AsiaOne dan data harga ritel Singapura, April 2026.
  • Bangchak, Thairath, dan The Nation Thailand, data harga BBM dan kebijakan diesel Thailand, April 2026.
  • Bank Indonesia, kurs transaksi BI 27 April 2026.

Author:

Trending

Kategori

Bagikan Artikel dan Perspektif Terbaik Anda