
Oleh: Nastiti Rizky Shiyammurti ( Dosen Akuntansi Telkom University)
perusahaan terbuka kini menghadapi tuntutan yang sama: bekerja lebih tertib, lebih transparan, lebih digital, dan lebih bertanggung jawab. Akuntansi tidak lagi cukup dipahami sebagai kegiatan mencatat transaksi. Akuntansi telah menjadi bahasa utama untuk membaca kesehatan bisnis, mengukur kepatuhan, menilai keberlanjutan, dan membangun kepercayaan publik.
Rangkaian kajian dan pengabdian akademik selama tiga tahun terakhir menunjukkan satu pesan penting: literasi akuntansi, teknologi informasi, kepatuhan pajak, green accounting, dan tata kelola perusahaan harus berjalan bersama. Bila salah satunya lemah, daya tahan bisnis ikut melemah. Bila semuanya diperkuat, pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas.
Di tingkat UMKM dan koperasi, persoalan pertama bukan sekadar ketiadaan aplikasi digital. Masalah yang lebih mendasar terletak pada kesiapan manusia yang menggunakan teknologi tersebut. Pelatihan software akuntansi di koperasi, misalnya, memperlihatkan bahwa digitalisasi hanya efektif bila pengguna memahami alur transaksi, pencatatan, pelaporan, dan manfaat data keuangan. Aplikasi tidak otomatis membuat laporan menjadi baik. Aplikasi hanya menjadi alat. Kualitas laporan tetap ditentukan oleh pengetahuan, kedisiplinan, dan kebiasaan pengguna.
Hal serupa terlihat pada penggunaan akuntansi digital oleh UMKM. Digital literacy dan compatibility menjadi dua kata kunci. Pelaku UMKM akan lebih mudah menerima akuntansi digital bila aplikasi tersebut sesuai dengan kebutuhan usaha, mudah digunakan, dan tidak terasa jauh dari praktik harian mereka. Banyak UMKM sebenarnya ingin tertib secara keuangan, tetapi mereka kerap berhadapan dengan bahasa akuntansi yang terlalu teknis, aplikasi yang rumit, dan pendampingan yang kurang berkelanjutan.
Karena itu, agenda digitalisasi UMKM tidak boleh berhenti pada pelatihan satu hari. UMKM membutuhkan pendampingan bertahap: mulai dari pencatatan kas masuk dan kas keluar, pemisahan uang pribadi dan uang usaha, penyusunan laporan sederhana, penggunaan aplikasi, hingga pemanfaatan laporan untuk mengambil keputusan. Tanpa tahapan itu, digitalisasi hanya menjadi slogan. Pelaku usaha mengunduh aplikasi, mencoba sebentar, lalu kembali ke cara lama.
Di sisi lain, kepatuhan pajak juga mulai bergerak ke arah digital. Penerapan e-filing bagi wajib pajak orang pribadi menunjukkan bahwa teknologi dapat mendorong kepatuhan bila masyarakat memiliki pengetahuan teknologi informasi yang memadai. Sistem pajak digital memang memudahkan pelaporan, tetapi kemudahan itu tidak akan terasa bila pengguna masih takut salah klik, tidak memahami istilah perpajakan, atau tidak percaya diri menggunakan layanan daring.
Di titik ini, negara perlu membaca kepatuhan pajak bukan hanya sebagai urusan sanksi, melainkan juga sebagai urusan literasi. Wajib pajak yang paham teknologi, paham kewajiban, dan paham manfaat administrasi pajak akan lebih siap berpartisipasi. Kepatuhan tumbuh bukan hanya karena takut diperiksa, tetapi karena masyarakat merasa mampu dan merasa sistemnya masuk akal.
Arah baru berikutnya adalah green accounting. Selama ini, banyak UMKM menilai keberlanjutan sebagai urusan perusahaan besar. Padahal, kepedulian lingkungan dan pemahaman akuntansi hijau dapat dimulai dari hal sederhana: mencatat penggunaan bahan baku, mengurangi limbah, mengelola kemasan, menekan biaya energi, dan menghitung dampak aktivitas usaha terhadap lingkungan. Green accounting membantu pelaku usaha melihat bahwa keberlanjutan bukan beban tambahan, melainkan bagian dari efisiensi dan reputasi bisnis.
UMKM yang peduli lingkungan memiliki peluang lebih besar untuk diterima pasar modern. Konsumen kini makin memperhatikan asal produk, proses produksi, kemasan, dan tanggung jawab sosial pelaku usaha. Artinya, akuntansi hijau tidak hanya berbicara tentang laporan. Ia juga berbicara tentang kepercayaan pasar.
Pada level perusahaan terbuka, isu yang muncul jauh lebih kompleks. Profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, struktur modal, pertumbuhan laba, financial distress, manajemen laba, perataan laba, nilai perusahaan, good corporate governance, dan corporate social responsibility menjadi indikator penting dalam membaca kualitas korporasi. Perusahaan tidak cukup hanya mencatat laba. Perusahaan harus menunjukkan bahwa laba tersebut dihasilkan melalui tata kelola yang sehat, keputusan keuangan yang rasional, dan tanggung jawab sosial yang terukur.
Kajian tentang profitabilitas, kebijakan dividen, keputusan investasi, dan nilai perusahaan memperlihatkan bahwa investor tidak hanya melihat angka laba. Investor membaca sinyal. Mereka menilai apakah perusahaan mampu menjaga kinerja, mengelola risiko, membayar dividen secara wajar, dan mengambil keputusan investasi yang memberi prospek jangka panjang. Nilai perusahaan dibangun melalui kepercayaan, bukan hanya melalui angka pada laporan keuangan.
Begitu pula pada isu manajemen laba dan perataan laba. Praktik ini sering muncul ketika perusahaan ingin menampilkan kinerja yang terlihat stabil atau menarik. Namun, stabilitas semu dapat menjadi risiko bagi investor dan publik. Perusahaan yang terlalu sibuk mempercantik laporan dapat kehilangan substansi tata kelola. Karena itu, akuntansi harus ditempatkan sebagai instrumen kejujuran bisnis, bukan sekadar alat kosmetik laporan.
Sektor perbankan dan lembaga keuangan juga memberi pelajaran penting. Likuiditas, perputaran kredit, rentabilitas ekonomi, perputaran kas, dan perputaran piutang menunjukkan seberapa sehat lembaga dalam mengelola dana. Bank dan lembaga keuangan tidak dapat hanya mengejar pertumbuhan. Mereka harus menjaga kualitas aset, mengelola risiko kredit, dan memastikan dana produktif benar-benar menghasilkan nilai ekonomi.
Dari UMKM sampai perusahaan besar, satu benang merah terlihat jelas: bisnis yang kuat membutuhkan akuntansi yang kuat. Namun, akuntansi yang kuat tidak lahir dari software semata. Ia lahir dari literasi, kedisiplinan, teknologi yang sesuai, tata kelola yang sehat, kepatuhan regulasi, dan kesadaran terhadap keberlanjutan.
Legalisasi usaha melalui OSS RBA juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut. Banyak pelaku UMKM masih menganggap legalitas sebagai urusan administratif yang rumit. Padahal, legalitas membuka jalan menuju akses pembiayaan, kemitraan, program pemerintah, perlindungan usaha, dan pasar yang lebih luas. Ketika UMKM memiliki legalitas, laporan keuangan yang tertib, dan kemampuan digital, posisi tawarnya meningkat.
Maka, agenda besar pembangunan ekonomi ke depan seharusnya tidak memisahkan digitalisasi, akuntansi, pajak, legalitas, dan keberlanjutan. Pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi bisnis, koperasi, dan pelaku industri perlu membangun gerakan bersama. Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui riset terapan dan pengabdian masyarakat. Pemerintah dapat memperkuat regulasi yang sederhana dan layanan digital yang ramah pengguna. Pelaku usaha perlu membuka diri terhadap pembelajaran baru.
Transformasi bisnis Indonesia tidak cukup dibangun dengan modal dan teknologi. Ia membutuhkan tata kelola. Ia membutuhkan akuntansi yang jujur. Ia membutuhkan kepatuhan yang dipahami, bukan ditakuti. Ia membutuhkan kesadaran hijau yang dimulai dari praktik kecil. Ia membutuhkan pelaku usaha yang mau belajar.
Pada akhirnya, masa depan UMKM, koperasi, dan korporasi Indonesia akan ditentukan oleh kemampuan mereka membaca angka, menggunakan teknologi, menjaga kepercayaan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya. Akuntansi digital bukan tujuan akhir. Ia adalah pintu masuk menuju bisnis yang lebih tertib, lebih transparan, lebih berdaya saing, dan lebih berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Jaenudin, J., & Shiyammurti, N. R. (2025). Pengaruh kecanggihan teknologi informasi dan pengetahuan pengguna terhadap efektivitas sistem informasi akuntansi: Studi kasus pada koperasi yang ada di wilayah Cimahi Utara. Profit: Jurnal Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 4(1), 285–308.
Jaenudin, J., Shiyammurti, N. R., Bhaktiar, R. E., Nugraha, H. S., & Mulyeni, S. (2025). Analisis green accounting antara kepedulian dan pemahaman pelaku UMKM. Journal of Business, Finance, and Economics (JBFE), 6(1), 152–157.
Kartika, T., Azhari, C., Shiyammurti, N. R., & Farman, F. (2025). Pengaruh penerapan sistem e-filing terhadap kepatuhan WPOP dengan pengetahuan teknologi informasi. RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business, 4(2), 6472–6481.
Mulyeni, S., Handayani, R., Shiyammurti, N. R., Jaenudin, J., & Herlina, H. (2024). Assistance for SMEs in obtaining business legality through OSS RBA in Cimahi City, West Java. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(1), 84–89. DOI: 10.32815/jpm.v5i1.1261
Shiyammurti, N. R., Dewi, M. S., & Farman, F. (2026). Assistance in accounting software training at the Saraswati Telkom Corpu Gegerkalong Bandung Cooperative. Society: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(1), 143–152. DOI: 10.55824/stqj4e08
Shiyammurti, N. R., Himawan, I. S., Jaenudin, J., & Rachmawati, D. W. (2025). Analisis digital literacy dan compatibility terhadap efektivitas penggunaan akuntansi digital pada UMKM. Jurnal Mahasiswa Manajemen dan Akuntansi, 4(1), 262–271.
Shiyammurti, N. R., & Iklima, N. S. (2024). Pengaruh profitabilitas, leverage dan ukuran perusahaan terhadap perataan laba: Studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018–2022. Jurnal Mutiara Ilmu Akuntansi, 2(3), 128–152. DOI: 10.55606/jumia.v2i3.3172
Shiyammurti, N. R., & Karamoy, E. M. (2024). The effect of leverage level and company size on profit growth: Study on food and beverage companies listed on the Indonesian Stock Exchange (IDX) 2019–2023. Jurnal Scientia, 13(03), 406–416.
Shiyammurti, N. R., & Lestari, E. C. (2024). The influence of financial distress, return on assets (ROA) and company size on profit management: Study on pharmaceutical companies listed on the Indonesian Stock Exchange (BEI) in 2016–2022. Jurnal Multidisiplin Sahombu, 4(01), 143–152.
Shiyammurti, N. R., & Ningsih, T. (2024). Pengaruh profitabilitas (ROE), kebijakan dividen (DPR), dan keputusan investasi (PER) terhadap nilai perusahaan (PBV) pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). GEMILANG: Jurnal Manajemen dan Akuntansi, 4(3), 189–211. DOI: 10.56910/gemilang.v4i3.1595
Shiyammurti, N. R., & Ramadanti, Y. (2024). The effect of company size and capital structure on company value: Study on property and real estate companies listed on the Indonesian Stock Exchange. Jurnal Scientia, 13(03), 108–119.
Shiyammurti, N. R., & Sari, S. W. (2024). The effect of cash turnover and receivables turnover on current rasio: Study of public state-owned enterprises listed on the Indonesia Stock Exchange in 2011–2021. Jurnal Multidisiplin Sahombu, 4(01), 124–137.
Shiyammurti, N. R., & Wahyuni, R. (2024). Pengaruh good corporate governance dan corporate social responsibility terhadap nilai perusahaan BUMN go public pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jurnal Ekonomi, Akuntansi, dan Perpajakan, 1(4), 295–319.
Shiyammurti, N. R., & Waruwu, J. (2024). Pengaruh likuiditas dan perputaran kredit terhadap rentabilitas ekonomi di Bank Perkreditan Rakyat Artha Mitra Kencana. Jurnal Mutiara Ilmu Akuntansi, 2(3), 78–102. DOI: 10.55606/jumia.v2i3.3153