Daya Tarik Pariwisata Indonesia Jadi Penggerak Ekonomi Nasional

Bandung, 21 September 2026 — Kekayaan alam, budaya, kuliner, serta keragaman tradisi menjadi modal penting bagi Indonesia dalam mengembangkan sektor pariwisata. Dengan jumlah destinasi yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, pariwisata tidak hanya menjadi sektor yang menarik wisatawan, tetapi juga memiliki peran dalam menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat dan membuka peluang usaha di berbagai daerah.

Potensi tersebut semakin terlihat dari kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data Tourism Satellite Account (TSA) Indonesia 2023–2025 yang dipublikasikan Kementerian Pariwisata berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tourism Direct Gross Domestic Product (TDGDP) pada 2025 mencapai 4,78 persen atau sekitar Rp1.138,90 triliun. Total konsumsi pariwisata internal pada tahun yang sama mencapai Rp2.408,97 triliun.

Pertumbuhan sektor tersebut juga terlihat dari meningkatnya aktivitas wisatawan. Kementerian Pariwisata mencatat bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari–Juli 2026 mencapai 8,98 juta kunjungan, meningkat 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa daya tarik destinasi Indonesia masih memiliki potensi untuk terus dikembangkan.

Daya Tarik Wisata Menjadi Kekuatan Ekonomi Daerah

Daya tarik pariwisata Indonesia tidak hanya berasal dari keindahan alam. Kekayaan budaya, seni, sejarah, kuliner, festival, serta kreativitas masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman wisata yang berbeda. Pemerintah juga mendorong penyelenggaraan berbagai kegiatan daerah sebagai sarana untuk memperkuat daya tarik destinasi. Melalui Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, Kementerian Pariwisata memilih 125 event dari 38 provinsi. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat event daerah sebagai daya tarik wisata sekaligus mendorong pemerataan dampak ekonomi.

Kegiatan pariwisata memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor ekonomi lainnya. Ketika wisatawan berkunjung ke suatu daerah, pengeluaran mereka dapat memberikan aktivitas ekonomi bagi pelaku usaha akomodasi, restoran, transportasi, pemandu wisata, UMKM, ekonomi kreatif, hingga pengrajin produk lokal. Oleh karena itu, pengembangan destinasi wisata tidak hanya berkaitan dengan mendatangkan wisatawan, tetapi juga bagaimana manfaat ekonomi tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat di sekitar destinasi.

Menteri Pariwisata: Pariwisata Dapat Menggerakkan Ekonomi

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata dapat memberikan manfaat bagi perekonomian daerah dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.

“Pertumbuhan positif ini menjadi modal besar bagi Kementerian Pariwisata bersama mitra strategis, termasuk KADIN Indonesia dan mitra internasional, untuk terus bersinergi memperkuat pariwisata sebagai salah satu kekuatan yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional, membuka peluang investasi, serta menggerakkan usaha dan lapangan kerja di berbagai daerah,” kata Widiyanti.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast KADIN Indonesia pada September 2026. Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Pariwisata juga menyampaikan bahwa realisasi investasi pariwisata Indonesia mencapai Rp73,56 triliun pada 2025. Kontribusi PDB pariwisata meningkat dari Rp729,1 triliun pada 2022 menjadi Rp1,14 kuadriliun pada 2025 dan ditargetkan mencapai Rp1,19 kuadriliun pada akhir 2026.

Investasi dan Infrastruktur Perlu Diperkuat

Untuk meningkatkan daya tarik wisata, pembangunan destinasi perlu diikuti dengan penguatan infrastruktur, konektivitas, kualitas pelayanan, keamanan, serta fasilitas pendukung lainnya.

Kementerian Pariwisata juga mendorong agar investasi pariwisata tidak hanya terkonsentrasi di Jakarta dan Bali. Pemerataan investasi ke berbagai wilayah Indonesia dinilai penting untuk memperluas manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta mengembangkan usaha masyarakat di daerah.

Selain itu, pengembangan pariwisata perlu memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan budaya. Rencana Strategis Kementerian Pariwisata 2025–2029 menyebutkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan berupa keragaman destinasi, budaya, serta tradisi, tetapi masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur di sejumlah wilayah dan risiko lingkungan akibat pengelolaan pariwisata yang tidak berkelanjutan.

Pariwisata dan Masa Depan Ekonomi Indonesia

Pengembangan pariwisata dapat menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia. Potensi tersebut berasal dari besarnya pasar wisatawan nusantara maupun mancanegara serta keterkaitan pariwisata dengan berbagai kegiatan ekonomi. Namun, pertumbuhan jumlah wisatawan perlu diiringi dengan peningkatan kualitas destinasi. Pengembangan yang memperhatikan kelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat lokal, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pemerataan investasi menjadi faktor penting agar manfaat pariwisata dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Dengan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki, Indonesia mempunyai beragam potensi destinasi yang dapat dikembangkan. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikelola secara profesional, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Pariwisata pada akhirnya bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan, tetapi juga tentang menciptakan aktivitas ekonomi, membuka peluang usaha, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan nilai ekonomi daerah melalui kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Penulis,

Nastiti Rizky Shiyammurti, S.E., M.Ak

Dosen Akuntansi FEB Telkom University

Author:

Trending

Kategori

Bagikan Artikel dan Perspektif Terbaik Anda